Taqabbalallahu minnaa wa minkum... "Semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian"

16 Des 2010

Perselisihan Diantara Ahlus Sunnah

Oleh: Ustadz Abu Salma Al-Atsary

Fenomena berpecahbelahnya ahlus sunnah adalah suatu hal yang sangat memprihatinkan. Hal ini merupakan janji dari Syaithan tatkala ia tidak mampu dan berputus asa menyeret ahlus sunnah keluar murtad dari Islam, maka syaithan pun melancarkan serangan dengan memporakporandakan barisan ahlus sunnah.
Sungguh, fenomena ini adalah realita yang tak terperikan. Antara satu dengan lainnya saling menghujat dan mencela, bahkan sampai menvonis bid’ah, fajir dan fasik, tidak terkecuali nuansa takfir juga turut membayangi.
Ini semua tidak lepas dari beberapa hal, diantaranya :
  • Semangat yang meluap tanpa dilandasi ilmu yang memadai
  • Jahil terhadap ta’shil atau masalah yang mendasar
  • Fanatisme buta (ta’ashshub) dan taqdis (mensucikan) person tertentu yang dimuliakan, sehingga seakan-akan menyelisihi ucapannya adalah suatu penyimpangan
  • Hasad, dengki dan penyakit hati

12 Des 2010

Siapakah WAHABI ???

Al Ustadz Ruwaifi’ Bin Sulaimi Lc.
Selubung Makar di Balik Julukan Wahhabi
Di negeri kita bahkan hampir di seluruh dunia Islam, ada sebuah fenomena ‘timpang’ dan penilaian ‘miring’ terhadap dakwah tauhid yang dilakukan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi An-Najdi rahimahullahu [1]. Julukan Wahhabi pun dimunculkan, tak lain tujuannya adalah untuk menjauhkan umat darinya. Dari manakah julukan itu? Siapa pelopornya? Dan apa rahasia di balik itu semua …?
Para pembaca, dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab merupakan dakwah pembaharuan terhadap agama umat manusia. Pembaharuan, dari syirik menuju tauhid dan dari bid’ah menuju As-Sunnah. Demikianlah misi para pembaharu sejati dari masa ke masa, yang menapak titian jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Fenomena ini membuat gelisah musuh-musuh Islam, sehingga berbagai macam cara pun ditempuh demi hancurnya dakwah tauhid yang diemban Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya.

27 Nov 2010

Enam Syarat Agar Sebuah Ibadah Dikatakan Sesuai Sunnah

Kata orang Ini zaman bebas, semua orang bebas berpendapat, bebas melakukan apa yang dia ingin lakukan, tidak boleh ada yang menghalangi selama tidak menganggu orang lain….
Ada benarnya , ada tidaknya, memang benar semua orang bebas melakukan apa saja… karena dia bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, inilah yang disebut hak asasi. Selama dia tidak menganggu orang lain, selama dia siap menanggung resikonya maka tidak boleh ada yang protes.. begitulah katanya..
Begitu juga dalam permasalahan agama, tidak boleh saling menyalahkan dan saling menghujat, kalau ada yang bilang menvonis sesat, ini bid’ah.. maka orang itu yang dianggap telah melanggar hak kebebasan berpendapat,  dan telah melanggar hak-hak kemanusiaan…
Anehnya, kalau untuk urusan pribadi , urusan organisasi dan urusan partai maka kita boleh marah..boleh saling menghujat, boleh saling menyalahkan … bahkan saling menyerang,..
Boleh menyalahkan orang lain utnuk urusan dunia tapi tidak boleh menyalahkan orang lain untuk urusan akherat, aneh ??

23 Nov 2010

Ahh... Itukan Cuma Sunnah (Tidak Ada Masalah Sepele Dalam Agama Ini)

Dalam masalah penerapan sunnah sering dilontarkan syubhat-syubhat dari ahlul bid’ah yang menyebabkan umat enggan dan tidak bersemangat untuk mengamalkannya. Di antaranya syubhat-syubhat yang dipropagandakan oleh para politikus yang berbaju da’i. Mereka selalu meremehkan masalah fiqih dan hukum-hukum syari’at dan menganggapnya sebagai perkara remeh dan sepele. Mereka menganggap pelajaran-pelajaran seperti tauhid uluhiyah, fiqih syari’ah dan lain-lainnya sebagai kulit (qusyur) dan bukan inti (lubab) dari ajaran agama ini. Atau mereka menganggapnya sebagai furu’ (cabang) dan bukan perkara ushul (pokok). 

17 Nov 2010

Orang Syi’ah Bodoh terhadap Agamanya Semenjak Jaman Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam

Ini adalah sebuah potongan sebuah hadits yang panjang dari perkataan Al-Baaqir, salah seorang imam Syi’ah, dalam kitab Al-Kaafiy. Telah berkata Al-Kulainiy :
مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ صَفْوَانَ بْنِ يَحْيَى عَنْ عِيسَى بْنِ السَّرِيِّ أَبِي الْيَسَعِ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ (عليه السلام) : .........وَ كَانَتِ الشِّيعَةُ قَبْلَ أَنْ يَكُونَ أَبُو جَعْفَرٍ وَ هُمْ لَا يَعْرِفُونَ مَنَاسِكَ حَجِّهِمْ وَ حَلَالَهُمْ وَ حَرَامَهُمْ حَتَّى كَانَ أَبُو جَعْفَرٍ فَفَتَحَ لَهُمْ وَ بَيَّنَ لَهُمْ مَنَاسِكَ حَجِّهِمْ وَ حَلَالَهُمْ وَ حَرَامَهُمْ ......

Muhammad bin Yahyaa, dari Ahmad bin Muhammad bin Shafwaan bin Yahyaa, dari ‘Iisaa bin As-Sarriy Abul-Yasa’, dari Abu ‘Abdillah (‘alaihis-salaam), (ia berkata) : “……Dan (keadaan) Syi’ah sebelum ada Abu Ja’far, mereka tidak mengetahui tata cara manasik haji mereka, perkara halal dan haram mereka, hingga kemudian Abu Ja’far membukakan bagi mereka (ilmu) dan menjelaskan kepada mereka tentang manasik haji mereka serta perkara halal dan haram mereka…..” [Al-Kaafiy, 2/19-20

14 Nov 2010

DUKUN DAN CIRI-CIRINYA

Perdukunan, ramalan nasib, dan sejenisnya telah tegas diharamkan oleh Islam dengan larangan yang keras. Sisi keharamannya terkait dengan banyak hal, di antaranya:

1. Apa yang akan terjadi itu hanya diketahui oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka seseorang yang meramal berarti ia telah menyejajarkan dirinya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal ini. Ini merupakan kesyirikan, membuat sekutu (tandingan) bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Atau;

2. Meminta bantuan kepada jin atau setan. Ini banyak terkait dengan praktik perdukunan dan sihir semacam santet atau sejenisnya.

FADHILAH YASINAN & HADITS KEUTAMAAN SURAT YASIN DALAM ISLAM

Asy-Syaikh Al-’Utsaimin rahimahullah ditanya: Apa hukum membaca surat Yasin sesudah menguburkan mayat, serta apa hukum adzan di kuburan setelah memasukkan mayat ke liang lahat?
Beliau rahimahullah menjawab:
Membaca surat Yasin di atas kubur seseorang adalah bid’ah yang tidak ada asalnya (dalil), demikian juga membaca Al Qur’an setelah penguburan mayat. Hal itu bukanlah Sunnah, bahkan perbuatan itu adalah bid’ah. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika telah selesai dari menguburkan mayat, beliau berdiri di atasnya dan berkata:
“Mintakanlah ampun bagi saudara kalian ini dan mohonkanlah baginya keteguhan. Sesungguhnya sekarang ini ia sedang ditanya.” [1]

Bila Pengkafiran Menjadi Sebuah Fenomena

Ibnu 'Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

((أَيما رجُل قال لِأَخِيْهِ : يَا كَافِرُ, فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا , فَإِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَ إِلاَّ رَجَعَتْ عَلَيْهِ))

"Apabila seseorang menyeru kepada saudaranya: Wahai kafir, maka sungguh akan kembali sebutan kekafiran tersebut kepada salah seorang dari keduanya. Bila orang yang disebut kafir itu memang kafir adanya maka sebutan itu pantas untuknya, bila tidak maka sebutan kafir itu kembali kepada yang mengucapkan." (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6104 dan Muslim no.60)

Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu juga menuturkan hal yang sama dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

((مَنْ دَعَا رَجُلاً بِالْكُفْرِ , أَوْ قَالَ : عَدُوَّ اللهِ, وَ لَيْسَ كَذَلِكَ إِلاَّ حَارَ عَلَيْهِ))

"Siapa yang menyeru kepada seseorang dengan sebutan kekafiran atau ia mengatakan: Wahai musuh Allah, sementara yang dituduhnya itu tidak demikian maka sebutan tersebut kembali kepadanya.” (Shahih, HR. Muslim no. 61)

11 Nov 2010

Bencana Alam Bukan Karena Maksiat?

Bencana alam merupakan fenomena alam yang terjadi karena adanya aktifitas fisik dari berbagai benda-benda di alam. Lalu bagaimana mungkin terjadinya bencana alam dikaitkan dengan moralitas, kemaksiatan, kesyirikan, hal-hal yang bukan aktifitas fisik, bahkan abstrak? Bagi sebagian orang ini adalah hal yang mudah, namun bagi sebagian lagi ini menjadi hal yang sulit dicerna akal.
Islam bukan agama yang mengajarkan mistisme, supranatural, tahayul dan sejenisnya. Dimana dalam dunia semacam itu, keterputusan hubungan antara sebab dan akibat adalah hal biasa. Kena musibah karena mata berkedut, sulit mendapat jodoh karena berdiri di pintu, sakit bisul gara-gara duduk di meja, dan semacamnya. Ini bukan ajaran Islam bahkan Islam melarang mempercayai hal-hal tersebut. Bahkan Islam sangat memperhitungkan nalar dan ilmu pasti. Itu sangat jelas sehingga rasanya tidak perlu membawakan contoh untuk hal ini.

20 Okt 2010

HADIRILAH KAJIAN ISLAM ILMIYYAH


Bismillaah walhamdulillaah
Hadirilah Kajian Islam Ilmiyyah, insyaa Allaah bersama:

Al-Ustadz Muhammad Na’im, Lc. hafizhahullaahu wa ra’aahu
(Alumni Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah KSA & Pengasuh Ponpes Al-Madinah Boyolali-Jawa Tengah)

Tema: Mengikuti Pemahaman Salafush Shalih (Shahabat Nabi) 
Waku & Tanggal: Ahad pagi 07-09, 24 Oktober 2010
Tempat: Majelis Taklim Arrahmat, Jl. A. Yani KM. 6 Banjarmasin

Insya Allah rekaman hasil kajian ini juga bisa di-download di kajianbanjar.wordpress.com, nanti setelah kajian semuanya selesai.
Copyright 2010@All Rights Reserved By Abu Rumaisha